Irdham Apriadi

Kelirunya Keyakinan Tuhan Dimana-mana

12 Oct 2010 - 05:45 WIB

mesjid

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) ditanya, “Bagaimana menyanggah orang yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana Maha Suci Allah dari perkataan semacam ini- dan apa hukum mengatakan seperti itu?”

Jawaban:
[Pertama]
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa dzat Allah subhanahu wa taala bersemayam di atas Arsy, Dia tidaklah berada di alam ini (sebagaimana makhluk-Nya), bahkan Allah terpisah dari makhluk-Nya. Namun Allah tetap mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu di bumi dan di langit yang samar dari-Nya. Allah Taala berfirman,

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Al Arof : 54)

(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thoha [20] : 4-5)

Kemudian Allah bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (QS. Al Furqon [25] : 59)

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. As Sajdah [32] : 4)
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air. (QS. Hud [11] : 7)

Dan yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya adalah dalil tentang diturunkannya Al Quran dari sisi-Nya. Telah kita ketahui bahwa setiap sesuatu yang turun itu adalah dari atas ke bawah. Allah Taala berfirman,

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (QS. Al Maidah [5] : 48)

Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al Qur’an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Ghofir [40] : 1-2)

Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Fushshilat [40] : 1-2)

Dan masih banyak dalil lainnya yang menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa taala berada di atas sana.

Dalil dari As Sunnah adalah hadits Muawiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim,

Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini? Bawa dia padaku, beliau shallallahu alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,

Di mana Allah?
Dia menjawab,
Di atas sana.
Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi,
Siapa saya?
Budakku menjawab,
Engkau adalah Rasulullah.
Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin. (HR. Ahmad [5/447], Malik dalam Al Muwatho [666], Muslim [537], Abu Daud [3282], An Nasai dalam Al Mujtaba [3/15], Ibnu Khuzaimah [178-180], Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah [1/215], Al Lalikaiy dalam Ushul Ahlis Sunnah [3/392], Adz Dzahabi dalam Al Uluw [81])
Terdapat juga hadits dari Abu Said Al Khudri,

Tidakkah kalian beriman padaku dan aku beriman pada Rabb yang berada di atas sana. Berita langit datang padaku di kala pagi dan sore hari. (HR. Ahmad [3/4,68,73], Bukhari [3344, 4351], Muslim [1064], Abu Daud [4764], An Nasai dalam Al Mujtaba [5/87] dan selainnya)

[Kedua]
Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah berada di mana-mana (di setiap tempat), maka dia termasuk Hululiyah (aliran yang menganggap Allah menyatu dengan makhluk, pen). Untuk membantah keyakinan semacam ini adalah dengan dalil-dalil yang telah lewat yang menyatakan bahwa Allah berada di atas sana. Allah bersemayam di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Hendaklah seorang muslim itu tunduk pada dalil Al Kitab, As Sunnah, dan Ijma (kesepakatan para ulama). Jika tidak demikian berarti dia termasuk orang yang kafir, keluar dari Islam.

Adapun firman Allah,

Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada.(QS. Al Hadid [57] : 4)

Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, maksud ayat ini adalah Allah bersama makhluk-makhluk-Nya dengan ilmu-Nya sesuai dengan keadaan mereka.
Adapun firman Allah Taala,

Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (QS. Al Anam [6] : 3)

Maksud ayat ini yaitu Allah subhanahu wa taala adalah sesembahan dari makhluk yang berada di langit maupun di bumi.

Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Az Zukhruf [43] : 84)

Maksud ayat ini yaitu Allah subhanahu wa taala adalah sesembahan (ilah) dari makhluk yang berada di langit dan di bumi, tidak ada yang berhak disembah selain Dia.

Inilah bentuk kompromi yang benar antara ayat dan hadits tentang hal ini (keberadaan Allah di atas sana dan ayat yang menyatakan Allah di mana-mana, namun maksudnya adalah ilmu-Nya, pen).

Semoga Allah memberi taufik (kepada kebenaran). Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta
Yang menandatangani fatwa ini:
Anggota : Abdullah bin Quud, Abdullah bin Ghodyan
Wakil Ketua : Abdur Rozak Afifi
Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Fatwa dari Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi (Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wal Iftah) [3/217-219], Pertanyaan Pertama dari Fatwa no. 5213

Sumber : http://www.rumaysho.com/


TAGS   aqidah / aqidah islam / aqidah ahlussunnah wal jamaah / aqidah tauhid / aqidah dalam islam /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive